Tuesday 31 January 2012

Trilogi Pendidikan di Taman Siswa


Ditulis oleh : M Kamil
                                         TRIPUSAT  PENDIDIKAN
Pada dasarnya, proses pendidikan dapat terjadi dalam banyak situasi sosial yang menjadi ruang lingkup kehidupan manusia. Secara garis besar proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan pendidikan yang terkenal dengan sebutan Trilogi Pendidikan.
Trilogi Pendidikan, yaitu:
  1. Pendidikan di dalam Keluarga (Pendidikan Informal)
  2. Pendidikan di dalam Sekolah (Pendidikan Formal)
  3. Pendidikan di dalam Masyarakat (Pendidikan Non Formal).
Pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan kodrati. Apalagi setelah anak lahir, pengenalan diantara orang tua dan anak-anaknya yang diliputi rasa cinta kasih, ketentraman dan kedamaian.

Anak-anak akan berkembang kearah kedewasaan dengan wajar di dalam lingkungan keluarga segala sikap dan tingkah laku kedua orang tuanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak, karena ayah dan ibu merupakan pendidik dalam kehidupan yang nyata dan pertama sehingga sikap dan tingkah laku orang tua akan diamati oleh anak baik disengaja maupun tidak disengaja sebagai pengalaman bagi anak yang akan mempengaruhi pendidikan selanjutnya. Maka, keluarga yang baik di dalamnya akan terjadi interaksi diantara para anggotanya. 

Sebagaimana dikemukakan oleh St. Vembriarto (1978:35) Bahwa proses sosialisasi adalah proses belajar yaitu suatu proses akomodasi dengan mana individu memohon, menahan, mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil alih cara hidup atau kebudayaan masyarakat.

                                                          5.





Komunikasi orang tua dengan anak memegang peranan penting dalam membina hubungan keduanya, hal ini dapat dilihat dengan nyata, misalnya: membimbing, membantu mengarahkan, menyayangi, menasehati, mengecam, mengomando, mendikte, dan lain sebagainya..
Bicara tentang pendidikan di Indonesia seakan tak ada habisnya. Mulai dari seminar tingkat nasional sampai seminar tingkat lokal, dari talk show para akademisi dan praktisi pendidikan sampai obrolan ringan masyarakat. Mudah-mudahan ini adalah sebuah euphoria yang baik, geliat pendidikan di tanah air sudah mengarah ke arah yang lebih baik walaupun sebagian besar masih dalam tataran wacana.
 Seperti anggaran pendidikan yang telah diamanatkan Undang-undang sebesar 20% mulai dilakukan pemerintah setahap demi setahap walaupun menghadapi berbagai kendala, kurikulum pendidikan mulai ada perubahan dan perbaikan mulai dari CBSA, Kurikulum 2004, KBK dan yang terbaru KTSP walaupun banyak yang merasa keberatan karena merasa nyaman dengan kurikulum yang lama dan dikarenakan sosialisasi yang kurang efektif .lalu, ada program kompensasi pengurangan subsidi BBM
Bantuan operasional Sekolah sebagai bantuan untuk operasional sekolah walaupun entah sampai kapan kebijakan ini bisa bertahan. Kebijakan – kebijakan tersebut dilakukan pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Tetapi Kebijakan – kebijakan pemerintah di atas tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada kepedulian dan peran serta masyarakat
Dalam dunia pendidikan kita mengenal dengan yang namanya trilogi pendidikan sebuah skema hubungan antara lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Antara satu dan lainnya saling mendukung dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Siapa pun pasti mengenal dan mengerti akan konsep ini tapi sedikit yang bisa mengaplikasikannya karena tidak adanya sinkronisasi di antara ke tiga faktor tersebut.
                                                        
                                                        6.
                                                          

 1.Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama dalam dunia pendidikan. pendidikan keluarga adalah fundamen pendidikan anak selanjutnya. Hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya, baik di sekolah maupun di masyarakat.
 Dalam keluargalah akan terbentuk watak anak, kebiasaan dan sebagainya. Idris dan Jamal (1992) menyatakan bahwa orang tua harus bisa memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, etika, sopan santun, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan-peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Selain itu peranan keluarga adalah mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai yang diajarkan di sekolah. Dengan kata lain , ada kontinuitas antara materi yang diajarkan di rumah dan materi yang diajarkan di sekolah.
Banyak para ahli yang mengemukakan tentang pentingnya pendidikan di lingkungan pertama. Seperti Comenius (1592-1670) seorang ahli didaktik dalam bukunya Didaktica Magna menegaskan bahwa tingkatan permulaan bagi pendidikan anak-anak dilakukan di dalam keluarga yang disebutnya Scola-Materna atau Sekolah Ibu. J.J Rousseau (1712 – 1778)
Seorang pelopor ilmu ahli jiwa anak mengutarakan betapa pentingnya pendidikan keluarga bahkan ia menjelaskan lebih jauh (dalam bukunya Emile) tentang pendidikan – pendidikan manakah yang perlu diberikan kepada anak sesuai dengan perkembangannya. Dan masih banyak lagi ahli yang menyatakan tentang pentingnya pendidikan keluarga seperti C.G salzmann dan Pestalozzi.
Tapi, Sangat disayangkan masih ada (kalau tidak mau dikatakan masih banyak) orang tua yang tidak menyadari peran mereka sebagai sekolah awal bagi anak-anaknya.
     
                                                         7.


2.Lingkungan Sekolah
Sekolah adalah sebuah “Wahana” tempat anak bereksplorasi menjelajahi samudra pengetahuan teori maupun praktek. Sekolah sebagai lingkungan kedua harus bisa meneruskan, memperbaiki bahkan menambah apa yang telah didapatkan anak di lingkungan pertamanya.
Sebagai contoh ketika anak telah belajar bagaimana caranya kasih sayang diungkapkan maka. Fihak sekolah (Guru, Wali Kelas, BK) bisa meninjau bagaimana anak berinteraksi dengan teman-temannya untuk kemudian memberikan arahan dan bimbingan sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak.
Kata sekolah diambil dari kata Scholae yang berarti menyenangkan ini berarti sekolah harus bisa menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif atau dalam istilah pendidikan kita dikenal dengan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan). Anak dalam hal ini tidak dijadikan sebagai Objek tapi sebagai Subjek dan fihak sekolah sebagai fasilitator sekaligus sebagai motivator terhadap perkembangan anak.
Oleh karena itu, sekolah diharapkan dan diharuskan bukan menjadi tempat yang menakutkan bagi anak dengan adanya tindakan-tindakan “pemaksaan” dan hukuman yang berlebihan sehingga anak menjadi fobia dengan yang namanya sekolah sehingga lahirlah anak-anak yang ketinggalan dalam hal pendidikan atau mengambil kata M. Joko Susilo sebagai Pembodohan Siswa Tersistematis.
Sekolah dalam peranannya harus bisa mengejawantahkan apa yang diamanatkan Undang-undang dalam pemerataan kesempatan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan dalam menghadapi tantangan global jangan sampai sekolah hanya menjadi tempat untuk berkumpulnya anak-anak, tempat menulis atau mendengar bahkan hanya sebagai tempat untuk mengulang hapalan.
                                                             8.


 Sekolah harus mempunyai nilai lebih apalagi kalau melihat kondisi masyarakat (orang tua) yang kurang memperhatikan anak-anaknya dalam hal pendidikan karena mereka beranggapan bahwa sekolahlah yang mempunyai tugas dalam hal pendidikan.
3.Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat sebagai bagian dalam lingkungan pendidikan juga mempunyai andil yang besar dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 8 tentang Hak dan Kewajiban Masyarakat dinyatakan bahwa “Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.”.
Dalam pasal 9 dinyatakan bahwa Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Yang disebut dengan masyarakat dalam pasal di atas adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.
Sebagus apapun sistem sebuah pendidikan kalau masyarakatnya tidak ikut aktif berperan serta maka bisa dipastikan pendidikan tersebut akan jalan ditempat. Sebagai warga negara yang baik dan peduli tentu mengharapkan bidang pendidikan ada kemajuan walau sedikit tapi pasti karena ketika pendidikan kita maju maka, ekonomi dan perkembangan sosial juga akan ada perubahan.
Masyarakat sebagai bagian dalam sebuah sistem pendidikan harus memperlihatkan lingkungan yang memberikan tuntunan yang baik bukan tontonan yang akan merusak tatanan pendidikan yang sudah diupayakan dengan baik. Jangan sampai peribahasa ”karena nila setitik, rusak susu sebelanga” menimpa pendidikan anak-anak kita.

                                                          9.


4.Hubungan dan kerja sama
Walaupun mempunyai kewajiban yang sama dalam hal pendidikan tetapi, tujuannya tidak akan maksimal tercapai kalau ketiga komponen yang telah disebutkan di atas tidak menjalin hubungan dan kerja sama yang baik karena, ada hal-hal yang bisa dilakukan keluarga tidak bisa dilakukan sekolah dan begitu juga sebaliknya.
 Oleh karena itu perlu diadakan sebuah kerja sama dan hubungan yang terorganisir antara sekolah, keluarga dan masyarakat dalam upaya memperbaiki pendidikan. Drs.M Ngalim Purwanto, MP (2002) menyatakan bahwa usaha yang dapat dilakukan untuk menjalin kerja sama dan hubungan.
Bisa dengan cara : mengadakan pertemuan dengan orang tua pada hari penerimaan murid baru, mengadakan surat menyurat antara sekolah dan keluarga, kunjungan sekolah ke rumah orang tua murid, mengadakan perayaan hari besar dan mendirikan perkumpulan orang tua murid dan guru. Dengan adanya model kerja sama dan hubungan seperti itu diharapkan sedikitnya dapat mengatasi persoalan-persoalan pendidikan yang begitu komplek.
Dunia pendidikan Indonesia secara perlahan-lahan namun pasti melakukan perubahan dan pembaruan menuju kepada pendidikan yang lebih baik karena Pendidikan adalah hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan, dengan pendidikan kita bisa memajukan kebudayaan dan mengangkat martabat bangsa di mata dunia. Akhirnya kita pun harus menyadari bahwa Pendidikan adalah tanggung jawab bersama
                                          
                                         10.                                                                                                              

                                 


 

                                                 BAB.3

Pendidikan Karakter menurut KI HAJAR DEWANTARA

Dunia pendidikan kini telah banyak terbius oleh berbagai ajaran-ajaran maupun dogma-dogma dari luar negeri yang diajarkan baik dalam pendidikan forma, non-formal maupun informal.
Kita tidak menyadari bahwa banyak dogma ataupun ajaran tersebut tidak sesuai dengan budaya negeri ini. Padahal negeri kita telah memiliki sejumlah tokoh pengajar dan pendidik yang luar biasa, salah satunya adalah pengajaran bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.
Bila dicermati, berbagai persoalan social yang terjadi sekarang adalah akibat lemahnya sikap toleransi antar sesama masyarakat, menurunnya wibawa pemerintah karena berbagai kebijakannya yang dianggap tidak pro rakyat.
Melemahnya peranan norma dalam mengatur ketertiban masyarakat hingga ketidak percayaan terhadap hokum. Semuanya itu memunculkan berbagai perilaku perilaku anarkis, sadistis, konfrontatif serta berbagai tingkah laku lain yang bertentangan dengan norma sosial, susila, dan agama.
Banyak kalangan yang akhirnya bertanya ”Apa yang salah dengan pendidikan nasional sehingga belum berhasil membangun karakter bangsa sebagaimana yang diamanatkan Pancasila, UUD 1945, dan UU NO. 20 Tahun 2003?”.
Membuat orang berkarakter adalah tugas pendidikan. Esensi pendidikan adalah membangun manusia seutuhnya, yaitu manusia yang baik dan berkarakter.
     
                                              11.


Pengertian baik dan berkarakter mengacu pada norma yang dianut, yaitu nilai-nilai luhur Pancasila yang sepenuhnya terintegrasi ke dalam harkat dan martabat manusia (HMM). HMM yang mengandung nilai-nilai luhur Pancasila inilah yang menjadi basis pendidikan. Dalam hal ini, paradigma pendidikan yang dikembangkan dan diimplementasikan adalah memuliakan kemanusiaan manusia, yang mana kemanusiaan manusia adalah HMM itu sendiri.
Pendidikan terwujud melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran ini terjadi tidak hanya sekedar pada tahap transfer pengetahuan (knowledge) semata, melainkan juga pada tahap transfer keterampilan (skill) hingga pada tahap transfer nilai-nilai (values) yaitu nilai-nilai kehidupan pada umumnya dan nilai-nilai spiritual keagamaan. Tahap inilah yang pada akhirnya mengarah kepada pembentukan karakter (character). Pendidikan pada akhirnya adalah pembangunan karakter.
Proses pembelajaran yang bermuatan pendidikan karakter itu dapat kita implementasikan dari ajaran pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Trilogi Pendidikan yang diajarkannya, yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Arti dari semboyan Trilogi pendidikan ini adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik).
Sudah waktunya guru-guru meninggalkan metode lama mengajar yang hanya sekadar melaksanakan tuntutan tugas dan mengejar target kurikulum  semata, sehingga tidak memiliki idealisme menjadi seorang pendidik. Tinggalkan mengajar tanpa dilandasi hakikat dari mengajar itu sendiri.
                                                   12.



Guru dituntut untuk kembali seperti yang Ki Hajar Dewantara katakan yakni seorang yang ing ngarso sing tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Guru yang bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik.
Aktualisasi ajaran Ki Hajar Dewantara di era globalisasi ini untuk membangun karakter bangsa, sudah sangat mendesak diterapkan.
Kalau itu dilakukan, Indonesia akan bebas dari predikat negara terkorup, birokrasi terburuk, dan lainnya, yang kesemuanya itu disebabkan lemahnya system pendidikan yang berkarakter budaya Indonesia. Perlu langkah bersama untuk mewujudkannya, sehingga Indonesia berubah jadi bangsa berkarakter tinggi.

 









                                                            










                                                                 .




                                                                13.











                                                                KESIMPULAN
               Saran.
                   1.. Pendidikan dalam keluarga memang sangat menentukan untuk
                          Dapat  dilihat dan dibuktikan  pada masa-masa yang akan
                          Datangnya, itu paling tidak sepuluh dan dua puluh tahun yang akan
                          Datang.

2.      Dari pendidikan dalam keluarga akan lebih perlu diwaspadai dan
     di perhatikan secara seksama lagi, adalah itu lingkungan
     masarakat, karena itu akan sangat besar dapat mempengaruhi
     watak seorang anak dimasa yang akan datangnya nanti.

3.      Pendidikan itu disekolah adalah sangat sedikit waktunya, tetapi
Hal itu lebih banyak  waktunya adalah diluar rumah dan di rumah, kerjasama  memang sangat diperlukan antara orang tua, guru,
Anak dan masarakat.
                      
                        USUL
4.      Pendidikan dalam keluarga tidak selamanya menentukan baik atau
Buruk nya anak dimasa yang akan datang, karena banyak anak yang dilahirkan dan di besarkan di sebuah panti asuhan menjadi
Baik dan sangat berguna bagi masarakat dan bangsa..

5.      Hendaknya Pelajaran tentang pancasila untuk kini seharusnya
Kembali dibuatkan program khusus tentang apa dan bagaimana
Pungsi sesungguhnya itu pancasila, karena sudah banyak
Masarakat negeri yang sekarang tidak mengenal lagi itu yang
Namanya Pancasila.










                              14.









        TRIPUSAT    PENDIDIKAN



  


Nama         : M K A M I L
NPM           : 11.11.0089
Fakultas     :  HUKUM
Jurusan      :  ILMU HUKUM
Matakuliah :  Ketamansiswaan



UNIVERSITAS      TAMAN  SISWA
         Tahun Ajaran 2011/2012
                PALEMBANG


                         





     KATA    PENGANTAR

                   Puji dan syukur  kami panjatkan kehadirat tuhan yang maha esa,
            Bahwa  kami dapat menyelsaikan tugas yang diberikan pada  kami.

                        Untuk ini kami menarik kesimpulan , mengambil tema “ TRIPUSAT
            PENDIKAN”. Yang kami peroleh tulisan ini dari berbagai sumber, sehingga
            Dapat kami simpulkan dengan tulisan yang telah kami susun.

                        Tulisan ini kami buat telah kami upayakan dengan segala upaya
            Dan batas  kemampuan yang  telah kami miliki, sehingga dapat tersusun
            Sebagaimana yang dapat kami sampaikan ini.

                        Kiranya ini dapat di pahami oleh Bapak Dosen Ketamansiswaan
            Yang telah memberikan tugas kepada kami untuk mengerjakan tugas ini,
            Tetapi inilah yang dapat kami sampaikan.

                        Besar harapan kami ini dapat diterima, sehingga mendapatkan nilai
            Yang baik bagi kami, dan itu kami sangat hargai, kami sampaikan terima
            Kasih.

                        Semoga Allah meredhoi kita semua. Amin.

                                                                        Palembang,  27 Desember 2011,
                                                                                    Penyusun,


                                                                                 M Kamil                           











                                                            ii.






              


     DAFTAR      ISI

                                                                                     hlm

Kata         Pengantar......................................                ii

Daftar ISI........................................................               iii.

BAB.I
PENDAHULUAN...........................................                 iv

BAB.   2.
           
        -Tripusat  Pendidikan..............................         5-10


BAB.    3.
           -Pendidikan Karakter  Menurut
            Kihajar   Dewantara............................        11- 13

KESIMPULAN
            -USUL   dan SARAN..........................               14.
           
Daftar Pustaka...............................................               15.





                               

                              iii..
















          

             DAFTAR      PUSTAKA



. Sumber diperoleh dari Internet.........


































                            15.          









                BAB.I

           PENDAHULUAN


                        Kami  berterima kasih  pada  rekan-rekan  yang telah dapat
            Membantu saya untuk  menyusun  tulisan ini, berikut yang telah saya
            Rangkai dalam bentuk.

                        Untuk pada bagian  Kedua, saya mendapat kesimpulan dengan
            Dengan mengambil tema “ Trilogi Pendidikan.” Dengan kami sajikan
           Penjelasan .dan  dengan beberapa bagian lainnya.

                        Selanjutnya, untuk bagian ketiga , yaitu kami berusaha untuk
           Mengetengahkan dengan tema, “ Pendidikan Karakter Menurut
           Kihajar Dewantara.”  Ini kami buat   dengan satu pembahasan.


                        Pada bagian lainya, juga  kami sampaikan  pembahasan akhir, yaitu
            Kesimpulan dari permasalahn yang telah kami sajikan, dan hal ini tentu
            Saja kami buat dengan segala batas kemampuan  yang kami miliki.

                        Demikian yang dapat kami tuliskan, kiranya ini semua dapat  dipahami
            Dan  di mengerti, oleh rekan-rekan  sesama mahasiswa dan dosen yang
            Bersangkutan dalam hal ini dosen Ketamansiswaan.






                                                            iv.        

No comments:

Post a Comment

Sorga atau neraka

 Sorga itu sudah ada di dunia Hanya sedikit yang mau Banyak manusia lebih memilih dunia Jika dalam gembira kau gelisah Jika dalam susah kau ...