Sunday, 4 September 2011

BERTEMU JIN KETIKA PULANG NGAJI


Suatu hari widodo pergi mengaji , orang tuanya berpesan”nak....hati-hatilah kau pergi,hidup ini untuk masa yang akan datang,bukan untuk masa kini.”nasehat orang tuanyasaat akan pergi ke tampat pengajian.
“Baik bu...”ungkap wid(panggilan akrab Widodo)ketika aku mulai berangkat menuju ketempat pengajian , dengan mengendarai sepeda . kegiatan runin ini idlakukan oleh Widodo setiap harinya,
Wid pun menjalani kegiatan itudengan rajin.
Dimalam itu hujan mengiringi, rintik-rintik bersamaan datangnya malam, sehingga untuk beranjak pulang tarasa sungkan.bersama-sama dengan kawan-kawan yang lain, Wid masih santai dirumah guru mengajinya. Mereka menunggu berhentinya hujan, tetapi tampaknya hujan tak juga reda.
Malam itu menunjukan malam jum’at kliwon, meskipun demikian tak merubah keadaan. Usai mengaji ternyata hujan tak reda, bahkan makin deras saja hingga dini hari, untuk itulah membuat Wid khawatir dengan keadaan alam waktu itu. Satu-persatu sudah ada yang pulang mengaji pada malam itu.
“Wid....kau belum pulang?.” Tanya seorang rekan mengajinya. “sebentar lagi saya akan pulang, jika saja hujan mulai reda.” Jawab Wid yang masi saja menunggu kalau saja hujan reda.  Tampaknya hujan tak kunjung reda, dan sepertinya hujan akan bertambah lama.
“Pak guru aku pulang,” ujar Wid yang akan segera meninggalkan tampat pengajian dimalam itu. Ia pergi meninggalkan tempat pengajian, lau mengambil sepeda yang diparkirkan. Dan segera beranjak dari tempat itu.
Dimalam jum’at kliwon itu, tampaknya hujan tak kunjung reda, tapi meskipun demikian Wid tetap saja pulang, “baik hati-hati lah dijalan, cuaca tidak bersahabat”pesan guru mengaji Wid, setelah itu segera saja berang kat dan menjalan kan sepedanya.
Meskipun tampaknya hujan ia tidak memperdulikan keadaan alam itu, tapi ia terus saja pulang.hujan rintik-rintik terus saja pulang. Malam makin merangkak, keadaan tak lagi dapat diketahui. Meskipun hujan , Wid yang sudah ingin pulang terus saja berjalan berlahan lahan.
Didalam perjalanan, Wid sepertinya agak terkejut ketika dari kejauhan ia melihat sebuah bayangan. Bayangan itu semakin jelas apalagi disaat itu melintas seorang laki-laki berjubah putih.
Laki-laki itu terus saja berjalan dengan tenang, tapi Wid yang saat itu melihat laki-laki yang berjubah itu makin terpesona dengan penampilannya. Meskipun demikian ia masih saja menjalan kan sepedanya.
Setelah berlintasan ia tak dapat berbuat apa-apa lagi, sehinggah saat itu juga tubuhnya gametar . sesaat setelah berlalu, bahwa laki-laki yang berjubah putih itu, sudah tak ada lagi. Bertambah beku tubuhnya, ketika sadar laki-laki itu tak lagi berada disampingnya.
Begitu cepetnya laki-laki itu menghilang, sehingga hanya berpikir  apa gerangan yang sedang terjadi.
Kejadian itu berlalu puluhan tahun sudah, tapi bagi Wid tak pernah terlupakan, bahkan sebagai kenangan bagi diri Wid seumur hidup. (M.kamil)    

No comments:

Post a Comment

Masih Cinta di waktu itu kau masih usia 12 tahun namun kau sangat dewasa tampaknya kasih saya diantara kita terjalin mesra sekrang kau ...