Saturday, 10 September 2011

Kerajaan Sriwijaya atau Kedatuan Sriwijaya

Palembang - Misteri seputar Kerajaan Sriwijaya masih berlangsung dan masih menjadi perdebatan seru baik kalangan sejarawan maupun kalangan awam yang menaruh minat terhadap masalah sejarah Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya atau kadang disebut dengan nama "Kedatuan Sriwijaya" adalah sebuah kerajaan yang bertumpu dikelautan (autokrasi,maritim) yang sebetulnya adalah negara dagang yang bertumpu dikekuatan angkatan lautnya, Sriwijaya adalah kerajaan perdagangan yang pertama di Indonesia. Mereka mengolah hasil komoditi perdagangannya dari hasil daerah yang ditaklukannya (sebetulnya bisa disebut daerah perlindungannya) mulai dari daerah Sumatera Selatan, Barus, Nusa Tenggara, dan Maluku. Oleh Profesor Muhammad Yamin,SH - Sriwijaya disebutnya adalah negara nasional pertama di Indonesia, karena mempersatukan wilayahnya dalam suatu kesatuan yang disebut "Kedatuan Sriwijaya" diperkirakannya, Sriwijaya itu sudah ada sejak abad ke 3 Masehi. Namun yang menjadi pertanyaan pula apakah pendiri kerajaan ini penduduk asli Nusantara ataukah dari pihak luar dalam hal ini negara China dan India. Pengaruh India memang dominan seperti penggunaan nama-nama kerajaan (dinasti), candi, agamanya dan lain sebagainya tetapi melihat dari peninggalan prasastinya yang kebanyakan berbahasa melayu, diyakini adalah penduduk asli Nusantara yang berasal dari suku Melayu.
      Melihat isi prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 683 Masehi, ada pula yang mengartikannya sebagai "tahun kebangkitan atau tahun proklamasi Sriwijaya" prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan pada tahun 1920 itu adalah salah satu prasasti yang ditemukan di Kota Palembang tepatnya di daerah Lorong Kedukan Bukit, Ilir Barat Palembang, disebuah perkebunan penduduk yang dikeramatkan sebagai "batu keramat lomba bidar" jadi banyak sekali pendapat bahwa "bidar" adalah salah satu bukti kemaritiman Sriwijaya di Kota Palembang selain rumah rakit dan juga penduduknya yang pandai berenang, dahulu ada pameo yang berbunyi  "bukan wong palembang kalau tidak bisa berenang" begitupun ada sebuah pernyataan kalau wong palembang mempunyai ilmu yang bisa berdiri diatas air. Terutama dari kalangan masyarakat yang disebut sebagai "Cili" prajurit yang pandai berenang dan menyelam didalam air, pandai berperang didalam air.
     Sriwijaya adalah kerajaan besar yang harus kita buktikan, dia bukan dongeng penglipur lara dia nyata bagaimana kita mengolahnya menjadi nyata itulah tantangannya. Untuk menjadi seorang sejarawan kita tidak hanya dituntut menguasai beberapa persoalan yang terutama menyangkut data atau sumber sejarah tetapi kita harus arif bijaksana dalam "mengurai benang kusut sejarah" mana yang mitos dan mana pula yang fakta. Drs.Ahmad Rafani Igama yang pernah penulis mintai pendapatnya, mengatakan hampir sebagian cerita sejarah di Sumsel ini penuh dengan mitos atau cerita tutur. Tetapi saya berkeyakinan cerita tutur atau cerita puyang ini kalau kita padukan dengan fakta sejarah inilah kenyataan sejarah, namun yang menjadi pertanyaan kapankah kita memulainya. Mungkin menunggu dana proyek dari pemerintah ? atau dana Hibah dari LSM asing ? terpulang semua kepada kita yang mau bagus atau terpuruk.
Kiriman  :  M.Jufri - warga Kota Palembang yang ada perhatian dan prihatin dengan peninggalan sejarah dan budaya Kota Palembang. Tinggal di Talang Banten Plaju Sumsel. Email : Jufrialpalembani@yahoo.com

No comments:

Post a Comment

da ah

Pagi  aku telah membasuh mukaku, aku mohon maaf tuhan, abhaw hari ini aku buat segelas kopi aku nikmati sepotong roti. tiba-tiba ada t...