Saturday, 23 July 2011

CERITA BERSAMBUNG "BAGIAN TIGA"

PERJUANGAN  DAN CINTA
Karya : M Kamil

Tiga orang pula telah mendekat pada barisan.
Masing-masing berdiri di hadapan  setiap barisan  yang telah siap untuk latihan.
"Tiap-tiap, langkah tegap jalan," Seru  Saidi Arsan.
Para pasukan mulai maju dengan tegapnya, gagah perkasa dengan derap langkah-langkah  mereka.
Saidi Arsan terus memimpin pasukan nya dengan tegar dan gagah sambil juga dia memberikan  suara-suara. Seperti  satu, dua , tiga jalan terus.
Para pasukan  dengan tak mengenal letih dan lelah terus berlatih keras, yakin percaya langkah demi langkah  khidmatnya.
Panas membakar tubuh mereka, tak dirasakan , diri dan jiwa yang mereka  perjuangkan. hati tegar yang menghasilkan semangat mereka kuat.
"Pasukan ! Henti !" teriakan dari Saidi arsan yang berdiri tegp disamping pasukan
Drap ! drap....drap....drap plak pasukan henti  dengan serentak menurut perintah dari pemimpin pasukan.Pasukan berbaris diam.
"Pasukan ! memutar ! balik kanan gerak 1" Seru Saidi Arsan .
Langkah bersama para  pasukan  yang kembali  berbalik ke belakang drap... langkah pasukan terdengar kembali menurut perintah pemimpin pasukan.
Satu , dua, tiga demikian terdengar suara dari pasukan yang dipimpin oleh Saidi Arsan.
"Jalan !henti ! gerak ! seru Saidi Arsan kembali.
Pasukan henti serentak  yang sebelumnya  terdengarlah suara langkah-langkah yang bersama-sama.
"Pasukan perhatian ! kita akan lari sepanjang satu kilo meter tiga kali pulang balik,"kata Saidi Arsan,"Siap."
setelah menerima perintah keras dari pemimpin pasukan barisan , segera pula  lari merathon dengan lincahnya.
Keyakinan yang membuat segala perintah berjalan baik.
Lari bersama dari pasukan.
Sambil berlari marathon terdengar suara  yang mengalun keras dari kaki-kaki pasukan , mega-mega diatas sana terpandang  terbelalak lebar melihat para pejuang-pejuang yang akan segera  mengahadapi hidup dan  mati  mereka.
Awan-awan di atas memberikan suara -suara nyaring yang menyayat bagi hati yang mendengarnya,  Rumput-rumput  yang di injak yang dinjak-injak  mereka merelakan  demi berhasilnya perjuangan. pohon yang berada disamping dan kiri dan kanan menyerukan, majulah patriotku aku berada di pundakmu, kekar tubuhmu menjiwa  seluruh alam ini. Burung -burung yang berterbangan diatas berjongkok -jongkok didahan berseru keras genggamlah sekuat tenaga.
Pasukan telah berada di sebuah tanah lapang serta lebar sekali, dengan drap langkah bersama tepat berada di sebuah perbatasan pagar setinggi bettis.
"Pasukan ! henyti" seru Saidi Arsan.
Pasukan berhenti serentak sebelumnya terdengar suara derap secara beruntun.
"Perhatian ! semua pasukan berdiri  di tempat, dan sepuluh orang lagi berdiri ditempat latihan tembak yang tersedia," kata Saidi Arsan.
"Siap," suara dari barisan pasukan Sepuluh orang maju kedepan, dan secara bersama pula mereka mengangkat senajata yang berada di pundaknya. Berdiri  tegap dengan mengambil ancang-ancang untuk segera  menembak sasaran , dibagian  jarak yang cukup jauh. Masing-,masing menurut kepandaian mereka miliki.Ada yang tepat menegneai sasaran dan ada pula yang meleset.
Saidi Arsan mulai meneliti  satu persatu para prajurit yang tengah siap menembak  sambil Berakata,"Tembaklah harus tepat di pandangan mata, setiap pandangan yakin akan mengenai sasaran, ingat itu !"
"Siap seru prajurit yang di berikan petunjuk oleh komandan Saidi Arsan.
Saidi Arsan berdiri mantap, tegar  memandangi para tentara sibuk latihan itu, sepuluh-sepuluh  berdiri mengangkat  senjata untuk segera menembak sasaran yang telah  ditentukan, dan tempat jarak menembak pasukan itu dengan teman-teman yang lainnya berjarak sekitar empat meter dan lima meter. Bila telah selesai mereka kembali ke tempat pasukan semula berdiri berbaris dengan pasukannya.
Dar dor dor suara peluru yang memecah bahana merindingkan bulu-bulu roma manusia bila meresapi arti dari peluru-peluru itu dan satu persatu melepas dari senjata. desingan peluru itu melambung ke seluruh hati manusia yang ada di tempat itu. Dalam hati yang membahana ke benak para tentara hingga melekat, menyusup, menitis, dan merembes tak ubahnya seperti air yang menetes dari tempayan yang dimiliki oleh rumah-rumah penduduk pada saat ini, itulah keringat yang menetes.
keringat yang membasahi tubuh-tubuh pejuang itu bersuara dan berbisik dalam menyusuri tubuhnya. Pejuangku bergeraklah dan gemuruhlah suara dan tenaga-tenagamu agar keringat yang ada ditubuhmu ini bahagia membasahinya. Aliran keringat ini bukan sekedar basah dan lepas tetapi kami juga berdoa, harapan kami pejuangku berhasil mengeyahkan penjajah di bumi ini.
Para tentara yang berlatih menembak terlihat sudah selesai semuanya.
Mereka berbaris seperti sediakala.
"Pasukan! siap!" seru Saidi Arsan memimpin pasukan.
Terdengar serentak langkah di tempat yang bersuara tegap secara bersama. Semua siap bersama menerima perintah selanjutnya.
"Perhatian! kita kembali lagi lari ke tempat latihan melalui kawat berduri" seru Saidi Arsan.
Tentara tetap berbaris tegar setegar batu karang.
"Pasukan jalan!"Seru Saidi Arsan.
Pasukan kembali berlari.
Derap langkah menggoyahkan dan menggugah hati para manusia yang ada langkah menuju arah, langkah yang akan melanjutkan untuk perjungan. Langkah-langkah perjuangan pengabdian, dan pengorbanan setiap jiwa anak-anak manusia Indonesia.
Hup hup ..... hup, suara dari komando pasukan.
Kegagahan dari setiap jengkal kaki tentara itu membangunkan seruan-seruan alam mendukung. Hembusan angin menyerukan bisikan-bisikannya nan lembut, tegarlah pejuang-pejuangku untuk menjadi pagar perjuangan tanah tercinta. Sekuat hembusan diriku ini, seperti ombak tepi laut memecah menghatam setiap karang yang melintang, karang-karang dititis batu, batu ditembus. Sekuat terpaan ku ini, sekokoh deburanku terjangan kau pejuang, segalah musuh di mukamu.
Langkah demi langkah berlalu.
Pasukan memasuki lapangan yang sudah kelihatan sebuah hamparan dan tatan dari kawat berduri, yang dapat diperkirakan setinggi lebih kurang lima puluh senti dari tanah.
Pasukan berhenti.
"Perhatian! semua memasuki kawat berduri itu, dan ingat kewaspadaan tetap diandalkan dila meleset sedikit saja kalian akan celaka, paham"Seru Saidi Arsan.
"Paham!" seru barisan suara tentara.
Pasukan mulai memasuki susunan kami yang berduri itu.
Saidi Arsan berdiri mengawasi setiap pasukan itu.
Prajurit-prajurit memasuki terowongan kawat berduri. Satu persatuterlihat selesai dan kelihatannya semua selamat, kemudian yang selesai dilanjutkan berlari menuju sebuah tempat. Ternyata bila selesai melaksanakan melintasi tiarap kawat berduri mereka melanjutkan sebuah rintangan bambu sebatang untuk mereka lalui.
Pemimpin pasukan berlari mengawasi mereka yang telah berjalan diatas bambu sebatanguntuk mereka lalui.
Satu persatu melalui bambu sebatang itu.
Nampak mereka melanjutkan pula memanjat sebuah paga yang  tinggi dan dipanjatkan dengan berhati-hati sekali sekali  kelihatanya. Mereka  itu telah sampai dan selesai melaksanakan pekerjaan melalui kawat berduri serta  melitasi sebatang bambu dan kini tengah berbaris.
Prajurit -prjurit telah berbaris.
"Pasukan siap," seru Saidi Arsan.
Dengan kekompakan  yang sudah terlatih dengan baik sekali sehingga gerak siap seperti tederngar suara musik drap yang dimainkan  oleh seorang ahli musik.
"Selanjutnya kita akan kembali lari kecil menuju tali yang tergantung di bagian utara tersebut dan dengan satu persatu melaluinya paham !" seru Saidi Arsan.
Pasukan yang menjawab dengan serentaknya dan terdengar keras ."Paham.'
"Lari jalan !" seru Saidi Arsan yang serentak juga turut berlari mengikuti dari samping.
SEbuah langkah yang mengalun seakan memainkan sebuah nada yang disyairkan keletihan  hilang. Lenyap telah di musnakan dengan  perasaan patriot yang dipegang, perang melawan jiwa yang lemah. Perang memusnahkan  semangat yang loyo, perang melawan  bisikan setan yang merayu pada kemalasan yang tak henti-hentinya. Di hati mereka yakin perang adalah suatu revolusi.
Sejurus pasukan memasuki lapangan.
"Pasukan henti !" seru Saidi Arsan.
"Perhatian satu persatu untuk meluncur melalui tali itu ingat yang selalu saya tekankan adalah kewaspadaan pada diri kalian  masing-amsing.! seru Saidi Arsan.
Pertama mulailah memanjat dan memegang sebuah tali. Kedmudian dengan segera men,luncur melalui tali itu,  keras sungguh mengharukan  pada pandangan mata. Detik dalam hati yang mendebarkaan  jida dan perasaan.
Layak sebuah sirkus yang sedang meluncur bermain, satu demi satu  prajurit mulai  melaksanakan peluncuranya. Dengan gagah  dan perkasanya melintasi sebuah tali diatas ketinggian sungguh luar biasa sekali.
Saidi Arsan memandang tajam setiap, setap prajurit yang melintasi tali itu.
Mata menadang nanar menilai, mengukur dan membandingkan , prajurit-prajurit dengan jujur dan berani, menemuh bahaya.
Ayunan tali seakan mengiringi  setiap denyut nadi yang memandangnya terasa semua orang akan kagum melihat semua ini.
Jika berlatih saja sudah memperjuangkan jiwa dan raga setiap insan.
Prajurit -prajurit tidak hanya selesai di tempat tali itu saja   ternyata masih melanjutkan  melintasi sebuah jalan, jalan yang terpampang di hadapan mereka dan harus di lalui dengan lebih hati-hati nya.
"Kewaspadaan di jaga, teliti dan hati-hati " seru Saidi Arsan yang mengawasi dari jarak jauh.
Jalan bukan hanya paparan jalan yang tanpa perangkap tetapi tempat lobang-lobang dibuat di tata rapi, sehingga  tidak akan  nampak lagi sebuah  perangkap  yang membahayakan setiap prajurit-prajurit. Prajurit memandang  tajam setiap  langkah kaki mereka.
Saat di jalan yang terdapat bermacam-macam rintangan  yang harus mereka jalani dengan kewaspadaan seyakin-yakinya.
Latihan melintasi tali nampak sudah selesai, kini mereka  semua melalui jalan bahaya yng penuh rintangan
Perang kali ini adalah melawan sebuah ketidak adilan, merelka hatus percaya diri bahwa setiap rintangan ini akan berhasil di lalui.
Bila telah selesai dan selamat mereka harus kembali berbaris seperti semual.
satu persatu prajurit melalui rintangan itu dengan selamat di tempat barisan. Memang ada juga yang masuk lobang perangkap yang dipasang.
Bila ada yang masuk perangkap maka mereka akan di tolong .
"Semua Siap dan kita akan menuju pada lapangan semual tempa upacara, paham !" seru Saidi Arsan.
Serentak terdengar jawaban dan barisan tentara-tentara itu yang menyatakan telah siap pula menerima perintah kembali menuju  lapangan upacara.
Keadaan tenang.
Pasukan nampak dengan tenangnya berbaris.
Pemimpin pasukan terlihat segera memberikan tanda untuk melangkahkan kaki mereka. Saidi Arsan mulai mengambil ancang-ancang dan berkata "Pasukan semua jalan."
Hap...hap.hap.....hap ....hap satu ....dua ....tiga.

Bersambung pada bagian KETIGA (kamil) 

No comments:

Post a Comment

Masih Cinta di waktu itu kau masih usia 12 tahun namun kau sangat dewasa tampaknya kasih saya diantara kita terjalin mesra sekrang kau ...