Senin, 04 Juli 2011

Keris Pusaka Kerajaan Sriwijaya

Selama ini warga Sumatera Selatan sesungguhnya bertanya-tanya bahwa dimana letaknya keris pusaka kerajaan, yaitu kerajaan Sriwijaya.
Seorang yang mengaku dari kerajaan Srwijaya, yang masih memiliki garis keturnan kearajaan, yang diteruskan kemasa kedatuan Palembang, tetapi tak mampu untuk membuktikan , jadi paling tidak orang yang mengaku keturunan itu adalah memiliki bukti-bukti, jangan sampai memalsukan sejarah.
seorang yang bernama Nanang usia 70 tahun, yang memiliki 41 keris yang  bermodel besar, sedang dan kecil, keris ini adalah, sebagai peninggalan dari kerajaan Sriwijaya, yang terkenal dengan kedidjayaannya. Salah satu bentuk keris keturunan raja ini mampu mengobati tetangga, misalnya sakit perut.
Nanang alias Syaripudin ini merupakanmendapat amanat dari leluhurnya untuk memegang benda pusaka tersebut, datangnya keris itu adalah karena berbagai cara ia datang, ada orang yang datang hanya memberikan keris lalu hilang pergi begitu saja.
Pernah juga didatangi seorang yang tinggi besar hingga mencapai dua meter, dia hanya memberikan sebuah keris lalu ia menghilang begitu saja, kadang tidak memberikan tahu apa guna dan mampaat dari kerus itu, tentu saja ini akan merasa aneh.
Tentu saja ini yang sering terjadi, sesungguhnya ,saya juga tidak tahu mengapa saya yang dipercaya untuk memegang amanah ini, seolah aku mendapat pesan bahwa aku harus memelihara keris-keris ini.Diakuinya bahwa ia memelihara keris ini sejak masih usia muda sekali, hingga kini usianya mencapai 70 tahun.
Setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya kersi pusaka menjadi tentu arahnya, namun jatuhnya pada para sislsila kerajaan Sriwijaya, yang dimulai dari keturunan Temenggung Mintek, Ke Temenggung Manca Negara, kholipah Kecil, Kholipah Besar, lalu ke Ngabehi atau Reksa Upaya.Kemudian Keranggo Wangso, Keranggo Wiro Sentiko, Keranggo Wiro Diprano, Temenggung Suro Diprono, KMS Adenan, Kms Ning M Zen, Terakhir masuk pada silsila Nanang atau keluarga Kms Syaripudin.
Selain keris itu datang secara aneh, juag datang tidak tahu siapa yang memberikan, juga datang dengan cara orang yang menawarkan untuk dibeli.
Ternyata kersi ini banyak mampaatnya, yang berguna bagi umum, yaitu untuk dapat mengobati orang yang sedang sakit, sehingga kadangkala memerlukan suatu perawatan yang khusus untuk keris-keris  ini, sebab ini bukan sembarangan keris, keris ini warisan kerajaan Sriwijaya.
Karena kersi itu kata Nanang, memiliki suatu jiwa, ia juga harus dimandikan, meskipun ia mandi bukan tiap hari, paling tidak setiap malam jumat kliwon setiap ada turun hujan, ia harus mandi untuk dapat menikmati air yang suci.
Dari air hujan bagi keris itu, adalah untuk dapat memberikan suatu kesucian yang menyegarkan mereka, itu juga untuk kesegaran bagai keris pusaka tersebut.
Kini alamat Nanang berada di Seberang Ulu I kelurahana satu Ulu, untuk itu kersi pusaka ini ditempatkan pada sebuah lemari yang khusus untuk kris tersebut.
Tidak satupun kersi yang aad akan dijualnya, sebab benda ini benda pusaka yang bukan untuk di jual belikan , karena ini benda peninggalan kerajaan Sriwijaya, memang ada orang yang menganggap  ini hanyalah barang rongsongkan, kata Nanang,"saya takut jika ini benda disia-siakan akan membawa laknat bagi saya sendiri."
Saya hanya berhara pada smuanya bahwa hati-hatilah pada  orang yang mengaku, ia adalah keturunan dari kerajaan Sriwijaya pada saat ini , karena kedepan ini akan menjadi bukti bahwa ia adalah keturunan kerajaan dari Sriwijaya.(Kamil)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar