Kamis, 07 Juli 2011

Peninggalan Kerajaan "BENTENG KUTO BESAK"

PALEMBANG,-ini adalah salah satu peninggalan sejarah, yaitu masa pemerintahan Kerajaan Srwijaya,Benteng ini dibangun selama 17 tahun, dikenal nama bangunan ini adalah "Benteng Kuto Besak.
Ini dibangun diatas "pulau". Lahan tempat berdiri dikeliling sungai, yaitu sungai Kapuran( kiri), aliran sungai meripakan kini adalah jalan Merdeka, setelah ditimbun pemerintah Belanda  sekitar tahun 1930, lalu dibagian utara adalah  Sungai Musi, Sungai Sekanak di bagian Barat dan sungai tengkuru pada bagian Timurnya.
Daerah yang dulu adalah sungai Kapuran , sungai Tengkuruk kini telag dijadikan jalan, itu mulai pada tahu 1930, yang telah menjadi jalan umum, lalu jalan Sudirman yang kini jadi landasan Jembatan Ampera tersebut, sempat menjadi pungsi bouluvard, itu pada masa Palembang Berbentuk Gementee(kota Praja), boulevard.
Jalan ini selalu digunakan untuk acara resmi  dan pertunjukan, misalnya pawai pada zaman Belanda, waktu pada masa Ratu Wihelmina.
Benteng Kuto Besak mulai digunakan pada masa  atau pada tahun 21 Februari 1979 M, Sultan Muhammad Bahaudin, pada Ahad Jumadil awal 1193 H atau 1779 M, pembangunan benteng kuto besak, juga kraton, ini merupakan kelanjutan Mahmud Badarudin  Jayo Wikromo Atau Sultan Mahmud Badarudin I(tahun 1724), ia pendiri mesjid Agung, yang pada masa itu disebut dengan Mesjid Sultan, itu adalah kakek dari Sultan Muhammad Bahaudin,
Bangunan ini menggunakan batu semen kapur, bubuk kulit kerang, juga digunakan putih telur dan rebusan tulang serta kulit sapai dan kerbau.
Benteng ini berbentuk segi empat ukuran panjang 290 meter, lebar 180 meter dan tinggi 6,60 meter, dari empat segi itu terdapat empat bastion, itu menempatkan meriam, Meraimnya terdapat diekempat sudut benetng pad masa itu, pungsinya untuk menghalau musuh pada zama itu, pada masa melawan Belanda 1819 dan pada perang kedua tahun  yang sama.
Karena ia dieklilingi oleh sungai-sungai antara lain  Musi, dan tiga pintu lain juga pada masa itu mengahadap sungai kapuran, sungai sekanak, itu pada masa Palembang Darusalam, ada keraton keputran, ruang pertemuan, rumah para elit.(kamil)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar