Saturday, 23 July 2011

INDONESIA MASIH MISKIN

Ditulis Oleh : M Kamil
Mengapa kita berani berkata demikian karena kenyataan memang demikian, karena disana sini kampung -kampung banyak terdapat rumah-rumah gubuk, rumah buruk, masarakat banyak yang hidup dengan penuh kesengsaraan.
Salah satu lagi untuk membuktikan kemiskinan itu adalah dengan melihat penghidupan warga yang ada di kampung-kampung dan ada di lorong-lorong, dengan kenyataan bahwa mereka kita berikan pinjaman, misalnya untuk seorang penduduk kita berikan, perorang .
Untuk perorang kita berikan mereka pinjaman dengan nilai lima uluh ribu rupiah perorangnya, ini saja mereka untuk membayarnya dua perhari selama dua puluh lima hari.
dalam kenyataan maka mereka akan mengalami suatu kesulitan yang sangat berat, karena diantara mereka itu akan tidal mampu bayar, sangat sulit untuk mengeluarkan uang dus ribu rupiah dalam seharinya.
sementara itu para pejabat yang ada di Indonesia in, mulai dari tingkat paling rendah adalah RT, mereka sudah melalui melakukan tindak korupsi, apa yang jelas ada dan terlihat dengan nyata di Indonesia adalah beras untuk orang miskin, atau lebih sering disebut dengan Raskin.
dalam kenyataan beras ini ketua rtnya akan selalu boleh untungnya, sehingga jatah program yang dilakukan hanya untuk memberikan dana bagi rtnya saja, diajual pada siapa saja yang mau beli, bukan hanya untuk golongan orang miskin tadi.
lalu kita kihat pada tingkat kelurahan banyak lurah yang memampaatkanpembayaran setiap yang namanya mau berurusan dengan seorang lurah, mulai dari uang KTP, uang surat keterngan, uang surat apa saja yang akan melalui lurah semaunya megeluarkan uang.
Ini adalah salah satu bentuk korupsi yang ada di di indonesia dan ini tak asing alagi bagi masarakat Indondesia pada saat ini.
Untuk di dinas misanya, untuk fee bagi seorang kepala dinas bukan yang aneh, sudah jadi keiasaan yang harus dan sanggup di terima oleh setiap pemborong yang ada di Di Indonesia.
Di Palembang saja misalnya, seorang pemborong harus sanggup memberikan setidaknya sepeuluh persen dari jumlah proyek yang akan mereka kerjakan.
Akibatnya dari ini semuanya, banyak jalan yang dibangun belum  lagi sampai satu tahun sudah pada hancur, juga sangat berantakan, batu-batunya bertebaran dimana-mana.
Akibatnya banyak jalan dan bangunan yang sudah rusak, padahal dana yang mereka dapat ini adalah juga hasil kerja keras rakyat.
Rakyat sekuat tenaga membayar pajak, mulai dari pajak makan di rumah makan, pajak belanja di super market, pajak listrik. bayar air , juga bayar pajak bumi dan bangunan.
Tetapi para pejabat hanya mementingkan diri mereka sendiri, mereka berbagi sesama mereka untuk menumpukan harta karun mereka.
Dengan cara dalam satu seorang kepala dinas memiliki hingga empat kendaraan, sedangkan kendaraan itu adalah hasil kerjanya sebagai hasil korupsi yang dia lakukan selama ini.
Seorang kepala desa misalnya, jika mau berbuat demi  kepentingan warganya, adalah sangat mudah,  misalnya ia pada tahun itu memberikan  bibit pohon untuk perumahnya lima batang.
Dalam  jumalh kepala keluarganya seribu lima ratus orang , lalua kita berikan untuk satu rumah adalah lima batang pohon, jika itu seribu lima ratus kepala keluarga.
Maka pohon yang akan di tanam adalah  tujuh  ribu lima ratus pohon, maka jika nanti pada saat panen, setelah lima tahunatau enam tahun kemdian maka jumlah pohon itu tujuh ribu lima ratus pohon akan  menjadi hanya dikali dua kubik satu pohon sehingga akan menghasilkan jumlah lima belas ribu kubik pohon yang sudah jadi papan.
Di waktu itu di desa tersebut akan terkumul dana dengan jumlah tiuga puluh milyar, sungguh luar biasa yang akan terjadi di desa itu.
Ini yang terjadi adalah seorang kepala desa hanya lebih memikirkan kepentingan dirinya  saja, yaitu bagaimana caranya agar dia dapat suatu keuntungan yang leuar biasa dari dirinya sebagai seorang kepala desa.
Tidak ia berpikir bagaiman agar desa nya ini akan makmur dan sejahtera, entah ini kapan akan terlaksana, seorang pemimpin yang benar-benar akan berpikir bahwa ia akan memikirkan rakyat yang dipimpinya.
Lalu begitu juga dengan seorang Bupati yang ada di indonesia saat ini, ia berpikir kapan lagi mumpung dia sedang memegang suatu  jabatan yang kini ia lagi berkuasa, semua tanah jika ada ia beli, istrinya dibetrikan kasa untuk sebagai pemborong, saudaranya di berikan kesempatan untuk menjadi seorang  kepala dinas.
tanah milik bupati ada dimana-mana, hal ini sudah tidak asing algi bagi warga Indonesia, lalu hukum yang ada hanyalah sebuah bacaan yang di lakukan oleh seorang kajaksaan, oleh seorang pengadilan, oleh seorang kepolisian, oleh seorang pengacara.
Hukum hanyalah jadi acang sebuah drama, yang masing-masing mereka memiliki peran dan aktir mereka masing-masing, sehingga mereka memilki ekuatan yang akan mereka perankan secara kompak.
Kemsiian hingga pada hukum dan kehidupan di Indonesia bukan yang aneh, karena kini hukum hanya untuk miskin di Indonesia adalah hal yang biasa saja.
Sepertinya masarakat bawah sudah maklum bahwa hukum akan berlaku bagi masarakat msikin saja, karena kalau orang itu memiliki suatu kekayaan  dan kekuasaan maka hukm baginya akan lalu begitu saja, cukup dengan suatu diskusi antara pemeran drama hukum maka ia akan bebas, ia bebas melenggang semaunya.
Lalu siapa yang akan mainkan peran ini, untuk mampu membentuk atau hadirnya seorang pembela kebenarn yang sangat berperan untuk rajkyatnya.
Atau hanya berkepanjangan dengan cerita dan harapan saja, hanya tinggal dialog di media belaka, untuk kead ilan yang akan hadir di Indonesia ini.
Menunggu sanga pembela kebenarn seperti tak akan hadir di negeri yang dikelan dengan sopan santun ini, sehingga para pelaku penjajah kemiskinan dapat bebas begitu saja.(kamil)

No comments:

Post a Comment

Masih Cinta di waktu itu kau masih usia 12 tahun namun kau sangat dewasa tampaknya kasih saya diantara kita terjalin mesra sekrang kau ...